MENERIMA PENDAFTARAN SISWA/I BARU

PENDAFTAR SISWA – SISWI BARU
TAMAN KANAK-KANAK AL-QUR’AN
TKQ – AL AMANAH CIOMAS BOGOR
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

TAMAN KANAK-KANAK ALQUR'AN AL - AMANAH CIOMAS - BOGOR ANGKATAN 2012

Bismillahirrahmanirrahim

ASSALAMU ALA’KUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH
SEGALA PUJI HANYA BAGI ALLAH SWT. KARENA ATAS KARUNIA DAN NIKMATNYA SEHINGGA KAMI BISA BERKESEMPATAN DI TAHUN INI UNTUK KEMBALI BERKIPRAH DAN MELANJUTKAN AMANAH YANG ALLAH SWT KARUNIAKN TERHADAP KAMI UNTUK MEMBUKA PENDAFTARAN SISWA/I BARU TAHUN AJARAN 2016/2017
UNTUK ITU KAMI MENGAJAK KEPADA PARA ORANG TUA/WALI SISWA UNTUK SENANTIASA BERGABUNG BERSAMA KAMI DI TKQ AL-AMANAH CIOMAS BOGOR. INSYA ALLAH DENGAN BERGABUNGNYA PUTRA/I BAPAK/IBU TKQ AL-AMANAH BISA MENJADI KEBANGGAAN YANG SESUAI KITA HARAPKAN YAITU PUTRA/I YANG BERIMAN, YANG CERDAS, KREATIF, MANDIRI DAN TERLEBIH LAGI BISA MEMILIKI PERILAKU YANG BERAKHALKUL KHARIMAH SESUAI DENGAN TUNTUNAN ROSULULLOH SAW.

COME AND JOIN US

at

TKQ AL-AMANAH BOGOR

ANAK ADALAH AMANAH PARA ORANG TUA
BAIK DAN BURUKNYA SI ANAK,  ORANG TUA YANG MENENTUKAN
PERCAYAKAN PUTRA/I BAPAK/IBU TURUT BERGABUNG DI
TKQ ALAMANAH
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.
Iklan

PERKEMBANGAN ANAK DAN MASALAHNYA

Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul “agenda persoalan” baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya. baca selengkapnya klik disini……

PERAN WANITA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

Seorang ibu mengandung janin (calon anak manusia) dalam rahimnya selama + 9 bulan. Setelah lahir ke dunia ia menyusuinya selama 2 tahun serta mengasuhnya sampai mampu mandiri (+ usia 6-9 tahun), yakni mampu mengurus diri sendiri dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah aktivitas minimal yang harus dilakukan seorang ibu terhadap anaknya (secara langsung). Dalam keadaan ini berarti seorang ibu memiliki peluang yang besar untuk berperan dalam proses perkembangan seorang anak (minimal 6-9 tahun). Bahkan pada masa awal kehidupan anak ini, peran ibu sangat menentukan kondisi perkembangannya. Dengan demikian, peran ibu sangat besar pengaruhnya dalam proses pendidikan anak, terutama di masa awal perkembangannya. Dan inilah yang menjadi dasar (basic) pada proses pendidikan selanjutnya. baca selengkapnya…..

 

RUMAH TANGGA ISLAMI?

Rasiat Rosululloh SAW

Bagi seorang gadis, saat pernikahan adalah saat dinantikan. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa besar dalam hidup seseorang. Pernikahaan membawa perubahan status, peranan, bahkan perubahan hak dan kewajiban. Tidak heran bila seorang gadis akan memasuki gerbang rumah tangga dengan berbagai rasa berkecamuk didada. Ada haru, was-was, cemas bahagia, juga gelisah. Angannya melambung. Impiannya terenda. Dalam galau ada tanya dihati: akankah kuraih rumah idamanku ? baca selengkapnya…….

WASIAT ROSULULLOH SAW

Rasiat Rosululloh SAW

1. Wanita yang ta’at pada suaminya, semua burung-burung di udara, ikan-ikandi air, malaikat-malaikat di langit , matahari dan bulan semuanya beristighfar baginya, selama mana ia masih ta’at pada suaminya dan diridhoinya.
2. Wanita yang bermasam muka, menyebabkan tersinggung hati suami, maka wanita tersebut dimurkai Allah, sehingga ia bermanis muka dan tersenyum mesra pada suaminya. Baca selengkapnya………

KEJARLAH ILMU WAHAI MUSLIMAH

ALQUR'AN BICARA TENTANG ANAKDr Kamal al-HaIbawi, alim Mesir yang tinggal di Pakistan (saat ini di UK (red)), dalam sebuah ceramahnya pernah mengisahkan pandangan seorang ulama tradisional tatkala ditanya komentarnya tentang peran perempuan dalam Islam: “Perempuan hanya boleh keluar rumah dalam tiga kondisi, pertama keluar dan rahim ibunya saat ia dilahirkan. Kedua, keluar menuju rumah suaminya setelah pernikahan dan ketiga keluar dari rumahnya menuju liang lahat, tempatnya beristirahat untuk selama-lamanya!” Nah… Iho? Landasan apa yang digunakan sehingga ia berpendapat demikian? Apa dalilnya, dari sudut mana ia memandang permasalahan perempuan dalam Islam ? Apa yang melatarbelakangi pernyataan itu muncul?

Mungkin itu serentet pertanyaan yang meluncur dari bibir kita saat mendengar fatwa sang ulama di atas. Tapi masalah peran dan posisi muslimah, khususnya di bidang ilmiyah, dalam gambar kebangkitan Islam yang kian marak dan menjamur memang sebuah misteri yang masih remang-remang. Tak percaya? Coba saja simak urajan di bawah ini . baca selengkapnya……..

AL-QUR’AN BICARA TENTANG ANAK

Rasiat Rosululloh SAWHarta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. 18:46)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. 3:14) baca selengkapnya………..

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

tujuan pendidikan islamPendidikan Islam, walaupun mencapai kemajuan dalam bidang sarana, namum kwalitasnya dirasakan belum memenuhi keinginan ummat. Kemerosotan itu disebabkan oleh berbagai faktor, satu diantaranya adalah ketidak fahaman terhadap tujuan Pendidikan Islam. Sebagian pendidik dan lembaga pendidikan berpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah menyampaikan ilmu pengetahuan. Akibatnya semua usaha pendidikan hanya ditujuan untuk mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.

Disamping itu terdapat pula anggapan bahwa yang dinamakan Pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (syari’ah), sehingga berkembang angapan bahwa ilmu-ilmu selain ilmu keislaman bukanlah merupakan garapan Pendidikan Islam. Akibatnya tujuan lembaga Pendidikan Islam terbatas pada pangajaran ilmu-ilmu syari’ah.

Tulisan ini mencoba mengemukan tujuan Pendidikan Islam agar kesalah pahaman tersebut akan dapat diperbaiki, dan Pendidikan akan dapat berkembang sejalan dengan tujuan hakiki Pendidikan Islam yang sesuai dengan kehendak ajaran Islam.

baca selengkapnya…………..

AL-QUR’AN BICARA TE NTANG ANAK

ALQUR'AN BICARA TENTANG ANAKHarta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. 18:46)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. 3:14)

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:177)

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. 4:9)

Katakanlah:”Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu olwh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak,dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS. 6:151)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. 7:172)

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8:28)

Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24)

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS. 9:55)

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah (QS. 16:72)

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. 17:31)

Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. 18:46)

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), (QS. 23:55)
Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. 23:56)
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, (QS. 23:57)
Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, (QS. 23:58)
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), (QS. 23:59)
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (QS. 23:60)
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS. 23:61)

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja.Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (QS. 33:4)
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:5)

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59)

Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfa’at bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 60:3)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah hrata-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 63:9)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 64:14)

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 64:15)/efah/11

DOWNLOAD FILE INI

Lingkungan merampas haq anak

Anak adalah aset generasi mendatang yang sangat berharga. Bisa dikatakan bahwa baik buruknya hari depan sebuah bangsa ditentukan oleh tangan-tangan pengembannya. Dalam hal ini ditangan anaklah tergenggan masa depan umat. Wajar bila setiap manusia dewasa yang menyadari masalah ini mempersiapkan strategi pendidikan yang baik untuk anak-anak. Tidak hanya itu, proses tumbuh kembang pun sangat diperhatikan dalam rangka mengarahkan dan membimbing mereka menuju tujuan yang diinginkan. Maka perhatian terhadap hak-hak anak menjadi suatu keharusan untuk mewujudkan cita-cita ini, yaitu membentuk generasi masa depan yang berkualitas.

Mengenai hak anak, secara umum berbagai negara saat ini berpegang pada apa yang telah digariskan oleh PBB. Diantaranya yang telah disebutkan dalam piagam PBB (Universal Declaration of Human Rights) adalah mengenai hak asasi anak yang dirinci sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, berdasarkan perkembangan fisik dan mentalnya. Hak anak-anak ini terutama adalah hak memperoleh air susu ibu, kasih sayang orang tua dan orang dewasa dalam segala bentuk disamping hak untuk bermain dengan atau tanpa menggunakan alat main yang bukan saja harus aman secara fisik dan biologis, tetapi juga psikologisnya (Republika, 10/12/94).

Bagi kaum muslimin, mereka tentu saja harus memperhatikan bagaimana Islam memecahkan persoalan anak ini. Islam telah menetapkan syariat yang sempurna tentang anak-anak, sejak ia dilahirkan, bahkan sebelum dilahirkan ke dunia dan sebelum diletakkan ke dalam rahim ibu. Hak-hak ini menyangkut pengasuhan, perhatian, etika dan pendidikan. Hak-hak ini harus dipenuhi oleh setiap orang yang memegang tanggung jawab, baik keluarga, masyarakat maupun negara (Al Mainawi, 1996).
Allah SWT telah berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 233 :

“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.”

Demikian juga firman Allah dalam QS At Tahrim ayat 6 :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

Dalam hadist, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda :

“Setiap bayi dilahirkan berdasarkan fitrahnya, lalu kedua orangtuannya yang (dapat) menjadikannya seorang yahudi atau seorang nasrani atau seorang majusi.” (HR. Muslim)

Seruan Islam ini menunjukkan betapa pentingnya umat Islam memperhatikan hak-hak anak, terutama dalam rangka menunaikan kewajiban menuju kehidupan mulia yang penuh ridla Allah SWT. Namun persoalannya saat ini, benarkah umat Islam telah mampu memenuhi kewajiban tersebut ? Sementara begitu banyak permasalahan anak, yang dalam banyak kasus makhluk-makhluk mungil ini hanya menjadi korban. Tentu sangatlah penting bagi kita memperhatikan dunia anak-anak. Menuntun tangan-tangan mereka, menyelamatkan dari berbagai hal yang membahayakan dan mengancam jiwa mereka.

Anak itu sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Daslam kehidupannya, anak membutuhkan interaksi dengan yang lainnya. Interaksi ini terjadi dengan orang tua dan saudara-saudaranya (keluarga) ataupun interaksi dengan kawan-kawan, serta segala hal yang ia temui di luar rumah (masyarakat). Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun biologis. Oleh karena itu memahami masalah-masalah dalam lingkungan dimana kita dan anak-anak berada, menjadi salah satu cara untuk mengerti persoalan-persoalan anak agar kita bisa mengupayakan pemecahannya.

Masih adakah hak anak dalam Lingkungan Keluarga ?

Lingkungan keluarga menjadi tempat awal bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Sejak anak berada dalam rahim ibu, dilahirkan, masa penyusuan, pengasuhan sampai ia tamyiz, lingkungan keluarga memiliki peran yang besar. Beberapa hal yang menyebabkan tidak terpenuhinya hak anak dalam lingkungan ini antara lain :

a. Persoalan-persoalan antara orang tua yang menyebabkan kelalaian terpenuhinya hak anak.

Anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya (orang tuanya). Cekcok antara ayah dan ibu seringkali membawa dampak buruk pada anak. Anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dan pendidikan harus mengalami masa yang kritis untuk berpisah dengan ayah dan ibunya. Pada usia balita, anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang dan perhatian orang tuanya seringkali pemurung, labil dan tidak percaya diri. Ketika menjelang usia remaja kadang-kadang mereka mengambil jalan pintas, dan minggat dari rumah dan menjadi anak jalanan. Ketenangan yang ia rindukan berubah suram. Pendidikan yang semestinya ia dapatkan menjadi hilang.

Di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Anak Pria Tangerang, sejumlah 61 anak telah berbuat kejahatan dengan latar belakang keluarga yang broken home. Tercatat 91 % dari anak-anak itu telah menjadi perampok dan pemerkosa. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh broken home pada perkembangan anak.

b. Salah faham orang tua terhadap target pendidikan

Kini tak jarang dijumpai orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak produktif versi materialisme. Anak harus terpatok oleh jam disiplin orang tua. Hal ini biasanya berbuntut rasa tertekan yang dialami oleh anak. Seperti yang terjadi pada Nn, anak kelas V SD swasta di Jakarta Selatan, selepas kegiatan belajar di sekolah hanya ada waktu satu jam untuk makan dan ganti baju. Pukul 14.00 ia harus segera mengikuti kursus/les yang diwajibkan oleh orang tuanya. Sang ibu membantah jika kesibukan anak merupakan ambisinya. Menurut ibu tersebut akan jadi apa dia nanti kalau enggak seperti itu, sementara tahun 2000 adalah tahun politik pasar bebas (Republika, 23/7/95). Ternya ta yang mendasari para orang tua untuk memperlakukan anak demikian, adalah globalisasi dunia yang makin mendepak kehidupan manusia. Adanya politik pasar bebas ternyata cukup menghantui keluarga ibu

Pakar pendidikan Prof. Dr. Utami Munandar berpendapat bahwa menjejalai anak dengan beragam les dengan dalih untuk masa depan tak bisa dibenarkan. Anak mempunyai hak untuk bermain. Menurutnya kurikulumlah yang bertanggung jawab terhadap masa depan anak. Sehingga les tak diperlukan bila kurikulum pendidikan telah baik (Republika, 23/7/95). Dengan demikia njelaslah bahwa kurikulum pendidikan tidak berisi transfer informasi belaka. Pada masa pendidikan anak sampai menjelang baligh (terutama masa sebelum tamyiz), pribadi anak harus dibentuk terutama oleh orang tua. Tidak hanya pembentukan pola fikirnya namun juga kejiwaan anak.

c. Kurangnya interaksi orang tua dengan anak

Kesibukkanorang uta yang berlebihan, terutama ibu, menyebabkan anak kehilangan perhatian. Seorang ibu yang berkarir di luar rumah misalnya dan karirnya banyak menghabiskan waktu, lebih banyak menghadapi masalah kekurangan interaksi ini. Bisa dibayangkan, bila dalam sehari ibu hanya punya waktu paling banyak 2 – 3 jam bertemu dengan anak. Anak lebih dekat dengan pengasuh atau pembantunya. Apa yang bisa ditargetkan ibu dalam pengasuhan serta pendidikan anak di lingkungan keluarga ini ? Apalagi dalam hal informasi, anak-anak disuguhi dengan materi-materi televisi yang kurang atau bahkan tidak lagi memperhatikan aspek negatif pada anak-anak. Pada faktanya televisi tidak mampu menjadi orang tua yang baik, karena acara-acara yang ditayangkan tidak semuanya baik. Dr. Seto Mulyadi (lebih dikenal dengan sebutan Kak Seto), seorang psikolog mengungkapkan : “Masih ada film anak-anak yang kurang mendidik dan terkesan merangsang anak melakukan tindakan destruktif yang diputar di stasiun televisi di Indonesia.” ” (Republika, 3/5/95)
Seorang ibu yang tidak memperhatikan apa yang terjadi pada diri anak, atau dalam hal ini tidak menjalin interaksi dengan anak, akan sulit mengontrol informasi-informasi yang masuk pada diri anak.

Kurangnya interaksi orang tua dengan anak ini menyebabkan pula anak kehilangan peran orang tua. Dr. Alwi Dahlan (Republika, 3/5/95) mengatakan bahwa sekitar 50 – 60 juta anak Indonesia dibesarkan oleh televisi yang mengusik pikiran. Nilai-nilai masyarakat Amerika masih mewarnai acara televisi masuk ke bilik keluarga. Sampai-sampai Alwi mengatakan : “ Jangan-jangan anak sekarang bukan anak bapak atau ibunya tetapi anak Mc Gyver “.

Hal lain yang merupakan akibat dari kurangnya interaksi orang tua dengan anak adalah kurangnya pengetahuan dan perhatian terhadap hak-hak anak. Akhirnya kebutuhan anak dalam arti hak-hak mereka tidak terpenuhi.

d. Eksploitasi anak dalam ekonomi keluarga

Pada kelompok masyarakat marginal (pinggiran), keterdesakan ekonomi keluarga seringkali menyebabkan anak menjadi korban. Hal ini sering kali disebabkan oleh ketidakfahaman orang tua terhadap tanggung jawab mereka untuk memenuhi hak-hak anak. Atau memang kondisi ekonomi keluarga benar-benar sulit. Maka hak anak untuk mendapatkan jaminan nafkah tidak terpenuhi. Timbul pula gejala mempekerjakan anak. Anak terpaksa putus sekolah karena tidak bisa membayar SPP. Mereka punturut membanting tulang untuk mencari nafkah. Seperti yang dialami Tuti (9 th) dan Udin (11 th), putra dari Wasmi, mereka harus ikut membantu ibunya demi memperoleh pengganjal perut. Saat ini masih ada ratusan bahkan ribuan keluarga seperti Wasmi. Para orang tua yang terpaksa harus lebih cepat membuat anak memikul beban ekonomi secara mandiri. Alasan ekonomi sulit ini yang membuat bocah-bocah seperti Tuti dan Udin harus membuang keceriaan masa permainan, masa pendidikan, masa kasih sayang dan kemanjaan serta ketergantungannya. Mereka terpaksa harus mandiri agar bisda tetap hidup di ibu kota yang keras ini. Biasanya kelompok anak jalanan melakukan aktivitas jalanan _mencari penghasilan_ rata-rata delapan jam sehari. Bagi mereka aktivitas sekolah masuk urutan kesekian. Mereka mengatakan tak punya waktu untuk sekolah, di samping alasan ekonomi. Menurut penelitian LIPI, 33 % anak-anak jalanan turun karena keinginan sendiri; 20,3 % dipengaruhi oleh teman ; 13 % disuruh orang lain atau orang tuanya. Namun faktor kemiskinan (ekonomi sulit) tetap merupakan pendorong utama (80,3 %), disamping adanya hambatan hubungan dengan orang tua (19,7 %) (Republika , 26/4/96).

Masih Adakah Hak Anak di luar Rumahnya ?

Kecenderungan perubahan di banyak negara yang mengarah kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi (termasuk Indonesia) akan mengakibatkan tidak terjaminnya tumbuh kembang anak sesuai dengan kondisi. Sebab dalam kondisi seperti ini masalah perilaku sosial anak sering atau banyak terabaikan. Akhirnya anak berada pada posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Seorang anak pada usia tamyiz, minimal 2 tahun, telah mampu menyerap informasi yang berada di luar lingkungan rumahnya, sekalipun untuk usia yang masih sangat kecil ini peran orang tua lebih mendominasi. Fenomena kehidupan yang ada di lingkungan mampu merangsang tumbuh kembang anak ke arah yang lebih baik atau merusaknya dari tabiatnya yang murni dan bersih. Dalam proses ini tanggung jawab membimbing dan mengarahkan tumbuh kembang anak tidak hanya terlimpah pada orang tua. Memang, sebagai orang tua sekaligus wali, mereka tentu harus bertanggung jawab penuh pada anak sampai anak dewasa. Namun ternyata dalam pelaksanaan peran ini ada faktor-faktor di luar rumah yang berpengaruh pada anak. Perlu kiranya orang tua mencermati faktor-faktor ini, demikian pula berbagai pihak yang berkait pihak yang terkait dengan masalah ini, yaitu masyarakat dan negara. Beberapa faktor ini adalah :

(a) Tidak adanya kesempatan bersekolah pada anak

Saat ini kita dapat menjumpai banyak anak-anak yang tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal. Sekalipun pemerintah Indonesia sendiri telah mengeluarkan peraturan tentang Wajar 9 th (wajib belajar 9 th), namun seringkali kondisi ekonomi keluarga tidak mengizinkan sang anak untuk menginjakkan kaki di bangku sekolah. Semakin hari biaya sekolah semakin mahal. Bagi keluarga papan bawah dan kelompok anak-anak jalanan, menuntut ilmu di sekolah hanyalah mimpi. Realita yang mereka hadapi menuntut kehidupan yang keras untuk mendapatkan sekedar makanan pengisi perut.

(b) Anak bersekolah dengan kurikulum yang sarat beban

Kelemahan kurikulum yang ada saat ini antara lain; substansi kurikulum yang dirasakan terlalu sarat. Materi pelajaran yang diberikan terlalu banyak bila dibandingkan dengan alokasi waktu yang tersedia. Untuk kurikulum yang berlaku sekarang, dirasakan bahwa struktur dan metode pengoperasiannya belum dapat mewujudkan terwujudnya ketiga ranah pendidikan secara proposional. Umumnya hanya aspek kognitif yang menonjol sedangkan aspek afektif dan psikomotorik kurang terjangkau. Di samping itu dirasakan ada ‘kekurangsinambungan’ antar jenjang pendidikan, khususnya antara kurikulum Sekolah Dasar dengan Sekolah Lanjutan Pertama. Sebaliknya dalam satu jenjang pendidikan terjadi tumpang tindih materi untuk materi beberapa mata pelajaran.

(c) Kekurangan tempat dan sarana bermain

Industrialisasi semakin melebarkan sayap, namun tanpa kendali sehingga hak anak untuk bermain di luar rumahnya pun terampas. Lahan luas yang semestinya menjadi tempat bermain bagi anak, kini berubah menjadi bangunan beton yang menjulang dan mempersempit ruang gerak anak. Meskipun saat ini pembangunan tempat hiburan anak semakin diupayakan, akankah hal ini bisa diakses semua anak ? Karena para pengusaha taman hiburan masih memperhitungkan segi komersial.

(d) Orientasi ekonomi yang memperparah nasib pekerja anak

Semakin santernya arus globalisasi menuntut manusia untuk saling mengejar materi. Sistem yang ada tidak mampu lagi membendung faham-faham asing yang merusakkan umat. Gejala pekerja anak yang diakibatkan oleh sulitnya ekonomi keluarga ditanggapi dunia ekonomi dengan perhitungan materi. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan oleh BPS pada tahun 1992 menunjukkan sekitar 2,5 juta pekerja anak di Indonesia (kategori pekerja anak versi Sakernas adalah mereka yang berusia 10 – 14 tahun yang aktif secara ekonomi). Sedangkan berdasarkan data BPS tahun 1994 di Indonesia terdapat 1,9 juta anak yang secara ekonomi aktif (10 –14 th). Sebagian besar (70 %) berada di sektor pertanian. Namun data ini dinilai banyak kalangan sebagai estimasi konservativ (terlalu sederhana dan terlalu global) serta mengecilkan persoalan buruh anak.

Faktor ekonomi (kemiskinan) merupakan faktor yang paling dominan menyebabkan munculnya masalah pekerja anak. Dirjen Pembinaan dan Pengawas Ketenagakerjaan Depnaker Suwarto mengemukakan bahwa selain kemiskinan, faktor lain yang menyebabkan anak-anak harus bekerja adalah kurangnya kesadaran orang tua dan masyarakat terhadap pentingnya lapangan kerja bagi anak. Demikian pula menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat, Azwar Anas menyatakan bahwa penyebab banyaknya anak yang terpaksa bekerja antara lain karena masalah kemiskinan. Penyelesaian masalah tenaga kerja anak, kini kian dipersulit dengan masalah waktu kerja yang panjang, upah yang rendah dan tempat kerja yang berbahaya(Media Indonesia, 25/796).

(e) Penanganan pemerintah terhadap anak jalanan

Saat ini kita masih menyaksikan fakta anak jalanan yang kian hari kian bertambah. Anak yang semestinya mendapat kasih sayang orang tua telah melangkah jauh menjadi anak jalanan. Bermacam-macam latar belakangnya. Diantaranya adalah faktor kemiskinan, akibat persoalan keluarga atau maksud tertentu (seperti yang ingin jadi jagoan, mabuk-mabukan, kriminal, dan lain-lain). Sebagaimana yang dialami Yanto (15 th) asal Madiun. Karena sering dimarahi sang ibu, akhirnya minggat dari rumah selama 11 tahun dan akhirnya terdampar di Jakarta. Cita-citanya menjadi tentara kandas di tengah jalan. Karena tak pernah mengenyam bangku sekolah lagi, akhirnya ia menjadi supir bus (Republika, 24/496).

Beberapa pihak dari kalangan swasta berusaha memecahkan persoalan anak jalanan ini dengan mendirikan sekolah-sekolah khusus bagi anak terlantar. Sebagai contoh adalah sekolah yang didirikan oleh yayasan Cakra Indonesia bekerja sama dengan lembaga Humania. Dewasa ini sekolah tersebut menampung siswa sebanyak 20 anak yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Anak-anak ini dididik dan dalam kurun waktu tertentu diharapkan sudah memiliki bekal ketrampilan dan pandangan hidup optimis dibandingkan masa sebelumnya. Namun dalam penanganan ini, pihak pengelola pun menambahkan bahwa : “Dibanding jumlah anak terlantar di Indonesia yang berjumlah sekitar tiga juta, mungkin usaha yang kami lakukan belum seberapa. Karena itu kami akan senang bila ada pihak lain yang menempuh langkah seperti ini”. Tentu saja ini berarti penanganan anak jalanan diserahkan pada swasta, tanpa peran pemerintah.

Mengenai program anak jalanan ini Menteri Negara Kependudukan Haryono Suyono menyatakan bahwa yang harus ditolong adalah orang tuanya. “Kita pernah menolong anaknya, malah menyebabkan makin banyak anak yang turun ke jalan. Mereka merasa kalau turun ke jalan ‘kan nanti ditolong, “ ujarnya.

(f) Belum ada kesesuaian dan keterpaduan antar-kebijakan

Sampai saat ini belum ada keterpaduan antar berbagai kebijakan. Meskipun Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak, namun tak ada UU atau peraturan yang secara langsung melilndungi buruh anak di sektor informal (Media Indonesia, 23/7/96). Bahkan keterlibatan mereka di sektor ini (informal) cukup banyak. Mereka antara lain tukang sepatu, penjual koran, rokok, penjual jasa di pasar-pasar, pekerja bangunan (konstruksi dan lain-lain).

Contoh lain dalam penyelesaian persoalan buruh anak ini, Dirjen Binawas Depnaker Suwarto berpendapat bahwa penyelesaian ini seharusnya tidak hanya dilakukan oleh Depnaker saja, tapi perlu kebijakan yang menyeluruh dari berbagai pihak. “Dalam menghadapi masalah ini kita bagai dihadapkan pada lingkaran setan yang sulit diputuskan”, ungkapnya (Media Indonesia, 25/7/96).

Dalam bidang pendidikan, sekalipun negara menetapkan program wajib belajar, kenyataannya biaya sekolah semakin tinggi. Demikian pula dengan anjuran kepada orang tua untuk menjaga anak-anak mereka dari lingkungan yang merusak, sementara pada faktanya tontonan dilayar kaca semakin marak dengan pesan-pesan tak bermoral. Anak-anak kekurangan sarana belajar. Buku-buku bacaan yang mengandung unsur mendidik semakin terkalahkan oleh majalah atau komik yang bersifatkan imajinatif dan tidak mendidik.

Dalam upaya membimbing dan mengarahkan anak menjadi generasi yang mampu memikul beban kepemimpinan umat di masa depan, maka pemenuhan dan pemeliharaan hak-hak anak harus diperhatikan. Tidak hanya dalam bentuk perhatian, namun juga dalam bentuk kesadaran bahwa semua itu adalah tanggung jawab yang harus segera dilaksanakan. Lingkungan yang kondusif terhadap pemenuhan hak anak harus benar-benar terjamin. Tanggung jawab ini terbebankan pada orang tua (ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai manajer/ pengaturnya), masyarakat serta negara. Ayah memiliki peran penting agar sistem keluarga berjalan baik dan anggota-anggota keluarga mampu bekerja optimal. Pemimpin negara bertanggung jawab menciptakan sistem yang kondusif agar setiap keluarga mampu berperan optimal dalam pembinaan generasi. Masyarakat saling mengingatkan dan bermuhasabah agar senantiasa berjalan pada garis kebijakan yang benar dan tepat. Untuk itu diperlukan suatu rumusan sistem yang mampu memecahkan berbagai persoalan secara menyeluruh dengan penyelesaian yang terpadu. Bagi kaum muslimin, sistem apakah yang lebih baik selain dari Islam ?efah/10

Wasiat rosululloh SAW terhadap wanita

Wasiat Rosulullah S.A.W. Terhadap Wanita / Isteri

Rasiat Rosululloh SAW

1. Wanita yang ta’at pada suaminya, semua burung-burung di udara, ikan-ikandi air, malaikat-malaikat di langit , matahari dan bulan semuanya beristighfar baginya, selama mana ia masih ta’at pada suaminya dan diridhoinya.
2. Wanita yang bermasam muka, menyebabkan tersinggung hati suami, maka wanita tersebut dimurkai Allah, sehingga ia bermanis muka dan tersenyum mesra pada suaminya.
3. Wanita yang lari dari rumah suami-nya, tidak diterima sholatnya, sehingga ia kembali dan mengulurkan tangannya kepada suaminya meminta ma’af.
4. Wanita yang keluar rumah dengan memakai bau-bauan berjalan melintasi satu kaum ( lain, yang ajnabi ) agar mereka tercium bau harumnya, maka ia adalah perempuan zina dan setiap mata yang memandangnya itu berzina.
5. Wanita hendaklah mendahului hak suaminya atas hak dirinya sendiri dan seluruh kaum kerabatnya.
6. Wanita yang berkata pada suaminya “Tidak pernah aku mendapat darimu satu kebajikan pun” Allah akan hapuskan amalannya selama 70 tahun. Walaupun ia berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari.
7. Wanita apabila mulai sakit untuk bersalin , maka Allah mencatatkan baginya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah.
8. Wanita apabila sholat lima waktu, puasa sebulan Romadhon, memelihara kehormatannya, serta ta’at akan suaminya, masuklah ia dari pintu syurga mana-mana sahaja yang ia kehendaki.
9. Wanita yang sebaiknya ialah apabila engkau memandang, akan menggembirakan engkau, jika engkau menyuruh ia ta’ati dan jika engkau berpergian, dijaganya harta engkau dan dirinya.
10. Wanita yang meminta suaminya mentalakkannya dengan tiada sebab yang dibenarkan syara’ haramlah baginya bau syurga.
11. Wanita apabila dipanggil ke tempat tidur, tetapi ditolaknya, maka marahlah suaminya, akan tidur wanita itu dalam laknat malaikat hingga pagi.
12. Wanita yang keluar rumah tanpa izin suaminya, akan berada dalam kemurkaan Allah hingga ia kembali ke rumah atau diridhoi oleh suaminya.
13. Wanita yang mengandung janin dalam rahimnya , maka beristighfaar para malaikat untuknya. Allah mencatatkan baginya setiap hari seribu kebajikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan.
14. Wanita yang bersholat dengan tidak mendo’akan suaminya , maka akan ditolak sholatnya.
15. Wanita yang berdiri atas dua kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api , maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka.
16. Wanita yang membuat kebajikan pada suaminya, dengan meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya dan memotong misainya dan mengguntingkan kukunya, memberi minum, Allah akan sediakan dia dari sungai-sungai syurga, serta diringankan Allah baginya sakaratul-maut dan akan didapatinya akan kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga, serta mencatatkan Allah bagi kelepasan dari neraka dan selamat ia melintasi Titian Shirotul Mustaqiim.
17. Wanita yang mendurhaka ialah apabila menghalang suami dari bersuka-suka dengan dirinya, keluar rumah tanpa izin suaminya, selama suami ada di rumah atau tidak, keluar belajar ‘ilmu yang bukan fardhu ‘ain, enggan bersama suami, mengunci pintu tidak membenarkan suami masuk ketika suami ingin masuk, bermasam muka ketika berhadapan dengan suami, minta cerai, bercakap kasar, berpaling atau membelakangi ketika bercakap, menyakiti hati suami dengan perkataan atau perbuatan, meninggalkan tempat tidur, membenarkan masuk ke rumah orang yang tidak disukai suami.
18. Wanita yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan ia ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya, karena ia memuliakan suaminya di dunia, maka ia mendapatkan pakaian dan bau-bauan syurga untuk turun ke mahligai suaminya dan menghadapinya.

peran wanita terhadap pendidikan anak

Peran wanita terhadap pendidikan anak

keluarga sakinah

Peluang Wanita Berperan dalam Pendidikan Generasi

Seorang ibu mengandung janin (calon anak manusia) dalam rahimnya selama + 9 bulan. Setelah lahir ke dunia ia menyusuinya selama 2 tahun serta mengasuhnya sampai mampu mandiri (+ usia 6-9 tahun), yakni mampu mengurus diri sendiri dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah aktivitas minimal yang harus dilakukan seorang ibu terhadap anaknya (secara langsung). Dalam keadaan ini berarti seorang ibu memiliki peluang yang besar untuk berperan dalam proses perkembangan seorang anak (minimal 6-9 tahun). Bahkan pada masa awal kehidupan anak ini, peran ibu sangat menentukan kondisi perkembangannya. Dengan demikian, peran ibu sangat besar pengaruhnya dalam proses pendidikan anak, terutama di masa awal perkembangannya. Dan inilah yang menjadi dasar (basic) pada proses pendidikan selanjutnya.

read more………

Rumah tangga islami

RUMAH TANGGA ISLAMI

keluarga sakinah

Bagi seorang gadis, saat pernikahan adalah saat dinantikan. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa besar dalam hidup seseorang. Pernikahaan membawa perubahan status, peranan, bahkan perubahan hak dan kewajiban. Tidak heran bila seorang gadis akan memasuki gerbang rumah tangga dengan berbagai rasa berkecamuk didada. Ada haru, was-was, cemas bahagia, juga gelisah. Angannya melambung. Impiannya terenda. Dalam galau ada tanya dihati: akankah kuraih rumah idamanku ?read more………